Get Adobe Flash player

tombolgalerifoto

tdownload

Pasar Terapung Lok Baintan

Pasar Terapung Lok Baintan

http://jalan2.com/wp-content/themes/Jalan-Main/thumb.php?src=http://jalan2.com/wp-content/uploads//2012/09/d1e73ac515d4d1d7af6d9c8775dfb2a5.jpg&w=580&h=390&zc=1&a=c&q=100&bid=1Pasar terapung di provinsi Kalimantan Selatan tidak hanya Muara Kuin yang ada di Banjarmasin. Namun pasar terapung ini juga ada di kabupaten Banjar. Tepatnya berada di salah satu anak sungai Martapura bernama Lok Baintan. Oleh karena itulah pasar ini juga dikenal dengan sebutan pasar terapung Lok Baintan. Ada dua cara untuk mencapai lokasi pasar terapung Lok Baintan. Pertama adalah dengan menggunakan klotok, yaitu perahu motor yang banyak ditemui di sekitar sungai Martapura.

Apabila berangkat dari ibukota provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin menggunakan klotok, maka hanya diperlukan waktu setengah jam untuk tiba di pasar terapung Lok Baintan. Salah satu dermaga yang pemilik klotoknya bisa mengantarkan anda menuju ke pasar terapung Lok Baintan adalah dermaga Masjid Sungai Gardu yang berada di Jl. Veteran. Cara kedua untuk menuju ke pasar terapung Lok Baintan adalah menggunakan kendaraan bermotor melalui jalur darat. Baik itu menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Bila menggunakan kendaraan umum, maka bisa berangkat dari terminal induk Banjarmasin yang ada di Jl. Ahmad Yani. Dari terminal ini cari angkutan pedesaan dengan jurusan sungai Tabuk.

Masjid Jami

http://www.banjarmasinkota.go.id/images/slide/mjami.jpg

Sebagai salah satu yang tertua di Banjar­masin, Masjid Jami Sungai Jingah menjadi pu­sat kegiatan Islam di Banjarmasin. Bangunan masjid memiliki arsitektur campuran sehingga menyerupai masjid yang terdapat di Pulau Jawa.

Pasar Terapung

PASAR TERAPUNG SUNGAI BARITO DAN SUNGAI MARTAPURA
gambar pasar terapung
Pasar Terapung adalah Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. . Kenapa disebut terapung? …..karena  para pedagang di pasar ini menawarkan barang dagangannya menggunakan jukung (sebutan perahu khas banjar) , dan begitu pula bagi yang mau beli juga harus menggunakan jukung untuk membeli Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya. Di pasar ini kita bisa membeli barang2 layaknya di pasar kebanyakan seperti sayuran, buahan, wadai (makanan2 kecil dlm bahasa banjar),sarapan pagi, dan mungkin juga beli lauk pauk, ketika di pasar terapung tersebut kita akan didatangi oleh penjual2nya alias didekati oleh jukung2 tersebut sambil menawari barang dagangannya..dan tentunya bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa banjar dan dialek banjar.
Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.
Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka. 
Untuk mencapai pasar ini tidak begitu susah karena pasarnya berada di kota. Dari kota kita hanya cukup pergi ke daerah Kuin, tepatnya ke dermaga2 kecil jukung, parkir2 untuk mobil sudah tersedia juga. Menuju kuin bisa dengan Taxi ato mobil pribadi. Dan dari dermaga jukung2 tersebut bisa pesan/carter jukung ke pasarnya sekitar 80000/jukung. Kemudian kita akan diajak menelusuri sungai martapura menuju ke hulu yang bermuara di sungai Barito. dan sepanjang sungai martapura kita juga bakal dapat melihat aktivitas2 masyarakat seperti mandi dan cuci.
 
Pasar Terapung Sebagai Obyek Wisata
Obyek wisata ini sering dianggap sebagai daya tarik yang fantastik, Banjarmasin bagaikan Venesia di Timur Dunia, karena keduanya memiliki potensi wisata sungai. Namun kedua kota berbeda alam dan latar belakang budayanya. Di Banjarmasin masih banyak ditemui di sepanjang sungai rumah-rumah terapung yang disebut rumah lanting, yang selalu oleng dimainkan gelombang.
Daerah Kuin merupakan tipe permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai (waterfront village) yang memiliki beberapa daya tarik pariwisata, baik berupa wisata alam, wisata budaya maupun wisata budaya. Kehidupan masyarakatnya erat dengan kehidupan sungai seperti pasar terapung, perkampungan tepian sungai dengan arsitektur tradisionalnya. Hilir mudiknya aneka perahu tradisional dengan beraneka muatan merupakan atraksi yang menarik bagi wisatawan, bahkan diharapkan dapat dikembangkan menjadi desa wisata sehingga dapat menjadi pembentuk citra dalam promosi kepariwisataan Kalimantan Selatan. Masih di kawasan yang sama wisatawan dapat pula mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah dan Komplek Makam Sultan Suriansyah, pulau Kembang, pulau Kaget dan pulau Bakut. Di Kuin juga terdapat kerajinan ukiran untuk ornamen rumah Banjar.
Kini pasar terapung Kuin dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.
Kepunahan pasar tradisional di daerah "seribu sungai" ini dipicu oleh kemaruk budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau mobil.
Sebagaimana diketahui, untuk bisa menyaksikan pasar terapung para wisatawan harus rela bangun sebelum subuh untuk menuju ke sungai Barito Muara Kuin Banjarmasin dengan mengendarai kapal kayu bermesin atau disebut kelotok.
Wisatawan pun juga harus rela menembus dinginnya suasana pagi dengan perjalanan sekitar setengah jam dari dermaga pemberangkatan yang terletak di depan masjid bersejarah Sultan Suriansyah.
Kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan enggan untuk bisa menikmati eksotiknya wisata pasar terapung, karena terlambat sedikit pasar yang kini pedagangnya terus berkurang tersebut telah bubar.
Dengan adanya pasar terapung yang aksesnya lebih mudah terjangkau oleh wisatawan akan mampu menyedot wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara lebih banyak lagi datang ke Banjarmasin.
Saat ini pasar terapung masih merupakan wisata andalan Kalsel, yang bila tidak dijaga kelestariannya dikhawatirkan akan menghilang tergerus oleh pasar-pasar modern.
Sekarang ini antara wisatawan dan pedagangnya lebih banyak wisatawannya, sehingga bila kondisi ini dibiarkan dikhawatirkan lama kelamaan pasar terapung tinggal menjadi sejarah.
Tentang kunjungan wisatawan di Kalsel, berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kalsel jumlahnya terus bertambah. Namun bertambahnya jumlah tersebut apakah murni wisatawan atau tamu yang kebetulan berkunjung untuk tugas atau perjalanan dinas atau memang ingin menyaksikan wisata Kalsel.
 
Berkenaan dengan hal diatas, dalam beberapa pekan terakhir telah dibuka lagi Pasar Terapung yang berada di tengah kota. Lokasi pasar merapat di siring Sungai Martapura, tepatnya di sisi Jalan Piere Tendean.
Menggunakan perahu jukung, puluhan pedagang yang didominasi kaum perempuan memadati salah satu bagian siring yang berada tepat di seberang Kantor Gubernur Kalsel lama. Keberadaannya mampu menyedot perhatian ribuan warga yang tengah berjalan-jalan menghabiskan Minggu pagi di kawasan tersebut.
Seperti pasar apung lain yang sudah ada lebih dulu di Banjarmasin dan terkenal, yakni Muara Kuin dan Lokbaintan, maka para pedagang di pasar apung di siring Jalan Piere Tendean ini juga menyajikan aneka barang, seperti buah-buahan, sayuran, dan aneka makanan.
Bahkan ada juga warung makan yang memanfaatkan bangunan rumah lanting yang saat ini jumlahnya makin berkurang. Untuk memeriahkan suasana Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin melengkapi pasar dengan musik dan penyanyi lokal.
Ya, keberadaan pasar apung siring Piere Tendean ini memang digagas oleh Pemkot Banjarmasin dalam upaya melestarikan pasar apung dari kepunahan. Lokasinya dibuat lebih mudah dan sifatnya mendekati pembeli.
"Konsepnya, kami berusaha membangun image menjadi pasar Minggu yang khusus terapung. Tujuannya sebagai salah satu bentuk pelestarian pasar apung," ujar Mujiyat Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Pemkot Banjarmasin, Minggu (23/3/2013).
Mengapa dibuat mingguan, menurut Mujiyat agar pasar yang ada di Muara Kuin dan Lokbaintan tetep hidup. Karena pedagang yang jualan di tempat ini juga berasal dari pasar-pasar apung lain, termasuk kedua pasar apung di atas. Bahkan nantinya ada rencana yang berjualan di tempat ini dilakukan bergiliran. 
 IMG-20130505-00208IMG-20130505-00210

Kampung Sasirangan

Kampung Sasirangan adalah tempat pembuatan batik khas Banjarmasin yaitu kain sasirangan dimana pembuatan batik ini masih menggunakan cara tradisional seperti kerajinan batik di pulau jawa.

http://www.banjarmasinkota.go.id/images/slide/k.sasirangan.jpg

Kampung Sasirangan terletak di Jalan Seberang Masjid Kelurahan Kampung Melayu, sejak 2010 telah dijadikan salah satu obyek wisata souvenir kerajinan kain dan busana sasirangan. Pembentukan kampung sasirangan oleh Dinas Pariwisata Pemkot Banjarmasin ini bertujuan memudahkan pembeli sekaligus sarana pembinaan kepada usaha mikro kecil dan menengah.

Daftar Tempat Wisata KAL-SEL

Banjarmasin:  
Komplek Makam Sultan Suriansyah
Komplek Makam Pangeran Antasari
Masjid Sultan Suriansyah
Pasar Terapung Muara Kuin
Museum Wasaka
Kubah Surgi Mufti
Kubah Basirih
Makam Ratu Zaleha 
Banjarbaru:
Museum Lambung Mangkurat
Pendulangan Intan Cempaka
Banjar: 
Mesjid Agung Al Karomah Martapura
Pusat Penjualan Batu Permata Cahaya Bumi Selamat Martapura
Pasar Terapung Lok Baintan
Makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary Kelampaian
Taman Hutan Raya Sultan Adam Mandiangin
Rumah Bubungan Tinggi Teluk Selong Ulu di Teluk Selong Ulu, Martapura Barat, Banjar
Rumah Gajah Baliku Teluk Selong Ulu di Teluk Selong, Martapura, Banjar.
Rumah Balai Bini Desa Teluk Selong Ulu di desa Teluk Selong Ulu, Martapura, Banjar.
Rumah Palimbangan Desa Pasayangan di Pasayangan, Martapura, Banjar.
Makam Datu Abulung di Martapura, Banjar.
Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung di Martapura, Banjar
Monumen ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Gambut, Banjar
Makam Sultan Adam di Kelurahan Jawa Martapura, Banjar
Makam Sultan Inayatullah di Kampung Keraton Martapura, Banjar
Makam Sultan Sulaiman Saidullah di Desa Lihung, Karang Intan, Banjar
Barito Kuala:
Jembatan Barito
Jembatan Rumpiang
Pulau Kembang
Pulau Kaget
Makam Haji Japeri
Makam Panglima Wangkang di Marabahan, Barito Kuala
Rumah Bulat (Rumah Joglo Desa Penghulu) di desa Penghulu, Marabahan, Barito Kuala
Rumah Gajah Baliku Desa Penghul
Makam Datuk Aminin
Hulu Sungai Selatan:
Loksado (Wisata Alam Pegunungan dan Arung Jeram Balanting Paring (Bamboo Rafting), Balian)
Masjid Su'ada di Wasah Hilir
Benteng Gunung Madang di Sei Madang
Makam Haji Saadudin di Taniran
Makam Datu Patinggi Mandapai
Makam Datu
Makam Tumpang Talu
Gedung Musyawaratutthalibin di Simpur
Rumah Bubungan Tinggi Desa Tibung di Kandangan
Rumah Bubungan Tinggi Desa Baruh Kambang di Negara, Daha Selatan
Rumah Bubungan Tinggi Desa Habirau di Daha Selatan