Get Adobe Flash player

MELAYANI DENGAN HATI SALANJUNG INOVASI >>> BP-PAUD DAN DIKMAS KALIMANTAN SELATAN MENGUCAPKAN SELAMAT ULANG TAHUN IKATAN PENILIK INDONESIA (IPI) YANG KE 11 >>> MEMBACA >>> MASA LALU, MENULIS MASA DEPAN >>> MELAYANI DENGAN HATI SALANJUNG INOVASI >>>

Launching Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (Gernas Baku) Kabupaten Banjar

 

Gernas Baku

MARTAPURA - Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (Gernas Baku) di launching pertengahan bulan tadi di Kabupaten Banjar. Kegiatan digelar Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kabupaten Banjar.

Ketua Himpaudi Kabupaten Banjar Hj Nurhayati berharap para orangtua bisa menyempatkan diri membacakan buku untuk anak anaknya. "Agar anak terbiasa dengan buku dan dapat melahirkan dan mendidik untuk menjadi anak yang cerdas, kreatif dan inovatif," katanya. Pada saat ini, imbuhnya, kebanyakan anak-anak itu waktunya dihabiskan duduk di depan TV dan pegang gadget. "Ini yang saat ini jadi perhatian. Untuk itu, mari sama-sama sosialisasikan agar orangtuanya bisa menyempatkan waktu untuk membacakan buku kepada anak-anaknya," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Paud, Pendidikan Keluarga dan Pendidikan Masyarakat Kabupaten Banjar, Erny Wahdini juga mengajak semua orang, khususnya pelaku pendidikan yaitu guru dan orangtua serta masyarakat untuk mengembalikan kebiasaan-kebiasaan positif anak. Misal orangtua yang mau mendongeng untuk anak. Dengan itu, selain terjalin ikatan emosional antara orangtua dan anak, juga membiasakan agar anak senang membaca buku. "Sehingga membaca buku itu tidak merupakan paksaan tetapi kesenangan anak," terangnya.

Dengan demikian akan menumbuhkan literasi dan menumbuhkan rasa senang belajar."Yang kami ketahui kemampuan literasi anak anak indonesia masih rendah, jadi ini salah satu cara ikut mensukseskan program gerakan nasional membacakan buku untuk anak," pungkasnya.(Fadly SR/A2)

 

Simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Pendidikan Kesetaraan Paket B/Wustha Setara SMP dan Paket C/Ulya Setara SMA Tahun Pelajaran 2017/2018 di Kabupaten Hulu Sungai Utara

28433864 1296842870417053 1766262333627170816 n

Amuntai - Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Utara melaksanakan Simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Pendidikan Kesetaraan Paket B/Wustha Setara SMP dan Paket C/Ulya Setara SMA Tahun Pelajaran 2017/2018 di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kegiatan ini diikuti oleh peserta didik kelas akhir ditiap jenjang Paket B dan Paket C yang tersebar pd 10 Kecamatan di Kab. HSU, baik dari lembaga PKBM ataupun Pondok Pesantren yang dilaksanakan pada SMP/Mts dan SMA/MA dan Serta SMK.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk kesiapan para peserta didik dan juga sebagai pengenalan cara menjawab soal UNBK Pendidikan Kesetaraan yang akan dilaksanakan ada Bulan April-Mei 2018.
Kegiatan dilaksanakan dari Tanggal 12 s.d 14 Maret 2018 (kegiatan mengikuti jadwal SMA/MA/Paket C) yang dikeluarkan oleh POS UN 2018. (A2)

Kabupaten Hulu Sungai Utara Gelar Kegiatan Sosialisasi Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku dan Amuntai Book Sale 2018

28765150 341445896346200 7129588583999995904 n

AMUNTAI- Kegiatan Sosialisasi Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku dan Amuntai Book Sale 2018 dilaksanakan oleh Pemkab HSU melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Dinas Pendidikan, TP PKK, IGTKI PGRI, HIMPAUDI serta sponsor utama yaitu Yusuf Agency.

Bupati HSU memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Amuntai Book Sale 2018 yang berlangsung dari tanggal 18 Maret sampai dengan tanggal 28 Maret 2018.
Bupati HSU beserta Bunda PAUD HSU juga membacakan cerita kepada peserta didik /anak PAUD, anak-anak sangat antusias dan senang dapat mendengarkan cerita dari orang No. 1 di HSU ini sebagai pencanangan GERNAS BAKU. 
GERNAS BAKU nantinya akan dilaksanakan serentak se Indonesia pada tanggal 5 Mei 2018.
Nantinya orangtua/wali peserta didik Satuan PAUD akan juga diundang untuk langsung membacakan buku untuk anaknya sendiri. 
Kegiatan ini dihadiri oleh Plt. Sekda HSU, Dandim HSU (yg mewakili), Forkopimda, Kepala BPOM Kalsel, Pejabat dilingkungan Pemkab HSU, Guru dan Peserta Didik PAUD serta masyarakat HSU. 
Pada kegiatan ini juga dilaksanakan mewarna 2000 anak PAUD bersama Bunda PAUD HSU, bagi peserta didik nantinya diberikan doorprize dan hadiah buku yang diberikan oleh panitia. (A2)

PKBM Kuranji, Ubah Kebiasaan Keluarga

Kebersamaan dan kedekatan antara orang tua dengan anak-anaknya merupakan kunci agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat. Hal itu diungkapkan Eva Febriany, Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kuranji. PKBM yang didirikan tahun 2009 itu berlokasi di Kampung Kuranji di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Jalan Ahmad Yani Km.28 Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Hal itulah yang menjadi landasan bagi istri Tata Suhanda itu untuk merubah karakter dan perilaku remaja-remaja di wilayah itu. Menurut Eva, sebelum PKBMnya didirikan tahun 2009 lalu, wilayah itu dikenal sebagai tempat nongkrong remaja-remaja pengangguran, minum minuman keras, tindak kekerasan, dan sebagainya. Menurut Eva, hal itu disebabkan kesibukan orang tuanya yang umumnya berprofesi sebagai buruh bangunan dan pembuat batu bata. Mereka rata-rata hanya lulusan sekolah dasar, bahkan tak sedikit yang ngga sampai selesai. Begitu pula terhadap anak-anaknya yang menurut para orang tuanya cukup lulus SD saja, tak perlu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. “Mereka, para orang tua, juga cenderung tidak mendidik anak-anaknya, dibiarkan begitu saja berkembang, tidur ya tidur, makan ya makan, pergi ya pergi begitu saja, tak ada ucapan salam, tidak ada kebersamaan, tidak ada upaya mendidik, jadi bergerak masing-masing, orang tua sibuk sendiri, anak aktivitas sendiri, rumah hanya tempat untuk tidur, “lanjut Eva.

Eva lantas membentuk PKBM yang salah satu kegiatannya adalah pendidikan kesetaraan. Dengan melihat kondisi masyarakat setempat, ia fokus di paket B, dan paket C serta pendidikan vokasional atau pendidikan kecakapaan hidup. Sama Seperti di level PAUD, untuk peserta didik Paket B dan C, Eva juga mewajibkan para orang tua peserta didik untuk ikut serta mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Namun, pemberian kesadaran seperti itu tidak dilakukan di ruang kelas saat hari pertama sekolah, tapi dengan strategi yang berbeda. “Strateginya berbeda karena mereka kan usianya jauh lebih tua, jadi jangan terkesan menggurui, “katanya.

Strateginya, lanjut Eva, mengajak para orang tua peserta didik dalam berbagai kegiatan di PKBM, seperti pelatihan pembuatan hidroponik, pembuatan aneka kue dan penganan, pengajian, posyandu, dan sebagainya. “Nah, sambil melakukan berbagai kegiatan itu, kami bertanya-tanya soal kondisi di rumah, kebiasaan sehari-hari, dan sebagainya, lantas pelan-pelan kami memberi masukan cara mengatasi masalah anak, melakukan pembiasaan baik, dan sebagainya, “jelasnya.

Saat ini, peserta Paket B di PKBM Kuranji sudah tidak ada, sementara di Paket C ada sekitar 30 orang. “Paket A atau setara SD kan sudah tidak ada, jadi kami memulai dari Paket B dan lantas dilanjutkan ke Paket C, “katanya. Peserta Paket B dan C di PKBM Kuranji merupakan usia-usia sekolah yang tidak melanjutkan ke pendidikan formal dengan alasan, selain ketiadaan biaya juga budaya setempat.

“Alhamdulillah, sudah banyak yang lulus dari PKBM ini, dan rata-rata sudah bekerja atau berwirausaha dan yang terpenting, setelah sekolah di di sini, karakter dan perilaku anak-anak muda di sini ada kemajuan ke arah yang lebih baik, tidak ada lagi tindak kekerasan, minum-minuman keras, dan sebagainya, “kata Eva sumringah. Yang penting lainnya, melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi keluarga yang disisipkan pendidikan keluarga, kebiasaan para orang tua untuk berkomunikasi yang dilandasi kasih sayang juga sudah diterapkan. “Anak remaja di sini sekarang sudah terbiasa cium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah, mengucapkan salam, makan bersama, dan lain-lainnya, “lanjutnya.

Syamsi (65) salah seorang orang tua menuturkan, tiga orang anaknya bersekolah di PKBM Kuranji. Dua orang pertama kini sudah bekerja di pabrik, dan yang terakhir baru lulus dan kini bantu-bantu di PKBM Kuranji.

“Alhamdulilah, di PKBM ini, anak-anak saya memperoleh bekal yang cukup, baik pengetahuan, wawasan dan karakter, “kata Syamsi yang berprofesi sebagai pemuat bata merah ini.

Ia mengakui, PKBM yang dipimpin Eva Febriany ini banyak merubah kebiasaan keluarga dan remaja di wilayah itu ke arah yang lebih baik. “ Dulu di sini sering ribut antar remaja, sekarang aman dan nyaman, “katanya. Dikatakan Eva, kunci dari perubahan itu adalah komunikasi dari hati ke hati. “Kita ajak pelan-pelan, masuk dalam kehidupannya, cari apa yang dibutuhkan dan kita coba memenuhinya. Salah satunya, mereka membutuhkan kasih sayang dari orang tua, dan saya coba menjadi orang tua bagi mereka, “kata Eva. (Sahabat Keluarga/Yanuar Jatnika/A2)

PKBM Kuranji Wajibkan Orang Tua Berkomitmen

Kesadaran pentingnya keterlibatan orang tua dalam meningkatkan prestasi dan memperkuat karakter peserta didik sebenarnya sudah muncul di beberapa satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal di beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan, kesadaran itu muncul jauh sebelum lahirnya Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2015 lalu. Direktorat besutan Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu memang memiliki amanah untuk mendorong keluarga terlibat aktif di satuan pendidikan. Salah satu satuan pendidikan, dalam hal ini pendidikan nonformal, yang sudah memiliki kesadaran itu adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kuranji. PKBM yang didirikan tahun 2009 itu berlokasi di Kampung Kuranji di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Jalan Ahmad Yani Km.28 Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Eva Febriany, Ketua PKBM tersebut menuturkan, setiap orang tua peserta didik yang mengikuti kegiatan pendidikan di tempatnya diwajibkan memiliki komitmen untuk bersama-sama mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan pihak sekolah. Bagi anak-anak PAUD, setelah daftar dan sebelum dimulai proses pembelajaran, para orang tuanya dipanggil untuk diberikan pemahaman tentang pola pembelajaran yang berlaku di PAUD Kuranji.  “Saya sampaikan, bahwa usia 0-6 tahun itu masanya bermain, maka model pembelajarannya juga dengan cara bermain, bukan dengan duduk di kelas terus belajar baca dan tulis, “kata wanita asli Bandung, Jawa Barat ini.

Yang tak kalah penting, lanjut Eva, dalam pertemuan itu ditekankan agar orang tua lebih mengintensifkan komunikasi dengan anak-anaknya serta memperkuat kedekatan. Salah satu bentuknya adalah mengajak para orang tua agar setiap pagi memeluk anaknya dengan kasih sayang sebelum berangkat sekolah. Terus saat pulang sekolah, ditanya mengenai pengalamannya di sekolah, apa yang dilakukan di sekolah dan bagaimana tentang teman-temannya. “Hal itu saya tekankan karena ketiadaan komunikasi dan kurangnya kedekatan antara orang tua dengan anak menjadi penyebab utama terbentuknya remaja-remaja bermasalah di daerah ini. Agar di masa mendatang tidak ada lagi anak-anak yang bermasalah, maka memulainya harus sejak usia dini, yakni saat di PAUD, “jelas Eva.

Menurut Eva, daerah tempat PKBM Kuranji ini dahulunya merupakan hutan dan ladang dengan sedikit pemukiman. Lebih dari itu, saat itu, wilayah itu menjadi tempat nongkrong pemuda-pemuda pengangguran yang kesehariannya tak jauh dari minum minuman keras, kekerasan, dan beberapa tindak negatif lainnya. Tahun 2009, saat Eva memilih Kampung Kuranji sebagai lokasi PKBM, ia melihat kurangnya kedekatan dan komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya di daerah itu. Hal itu, menurut Eva, menjadi penyebab munculnya remaja-remaja bermasalah karena kurangnya komunikasi dengan orang tua. “Maklumlah di sini umumnya berprofesi sebagai pembuat bata dan kuli bangunan dengan tingkat pendidikan hanya sekolah dasar sehingga tidak pernah terlintas hal-hal seperti itu, “katanya.

Ia meyakini, kalau anak sudah terpenuhi kasih sayangnya dari orang tuanya, dengan pelukan, ngobrol dari hati ke hati, ia tidak akan menjadi remaja yang bermasalah. Ia bersyukur, sejak didirikan PAUD 8 tahun lalu, sudah banyak perubahan perilaku di keluarga. Misalnya, anak-anak sudah dibiasakan mengucapkan salam saat masuk sekolah dan pulang sekolah, sungkem pada orang tua serta menyapa setiap orang yang ditemui. “Saya juga lihat orang tua sudah tidak sungkan lagi mengajak anaknya mengobrol, makan bersama, suatu kebiasaan yang sebelumnya tak pernah dilakukan, “ujarnya. (Sahabat Keluarga/Yanuar Jatnika/A2)